Cerita Lari: First HM

9 menit saja |

Wuaaah, ga nyangka. Kesampean juga lari Half Marathon untuk pertamakalinya! Eits. HM itu berapa jauh seh? Kira-kira 21 km-an lebih sikit lah. Ya, 21 km! Ternyata.. serius, ini tu jauh! Momen bersejarah diri sendiri, sayang klo ga kutulis di blog ini haha..

Awal Lari

Jadilah air yang mengalir, bukan air yang menggenang

Sebenarnya sudah dari sejak tahun 2015 mulai lari. Mencoba rutin, tapi sepekan sekali. Gak sendirian. Meski banyak bolongnya hehe. Model pelari seperti ini biasanya lebih dikenal oleh orang-orang sebagai pelari hore-hore. Atau bisa juga disebut sebagai olahraga cuci mata. Alias refreshing duank, tiap weekend. Yang penting gerak aja, dah bagus huahaha..

Lari UI 4k

Jarak tempuh sih lumayan niat. Rata-rata sekitar 4 km (jalur lingkar dalam UI). Plus jalan dari rumah ke TKP pp sekitar 3 KM. Ya, total 7 km-lah. Tapi, semua di dominasi jalan kaki. Bukan lari haha.. Lari beneran palingan ga sampe 2 km. Itu sudah okeh. Namanya juga hore-hore, alias suka-suka ga serius haha..

Eh, jangan salah.. meski cuma sekadar hore-hore sempat ikutan beberapa kali event lari pendek-pendek lho. Yang 5km an aja. Euro Run, ikutan 2x (2 tahun) plus 1x nya ga jadi karena sakit. Ikutan juga yang agak panjangan, 10 km di event MILO Jakarta International 10 km. Ikut, karena gratisan waktu itu, dapat kaos pula.. jadi sayang pan klo dilewatkan :-D

Tapi sekali lagi, semua di dominasi jalan kaki. Alias ga kuat lari jauh-jauh. Yang penting gerak dan happy ajah hehe..

Serius Lari

Mulai aktivitas tidak boleh setengah-setengah. Jika sudah mulai, seriuslah sampai selesai. Kalau berhasil, puas karena bahagia. Dan jika gagal, tetap puas juga karena sudah maksimal berusaha. Tidak ada kata penasaran lagi. Yang dilalui dapat dievaluasi.

Jeng-jeng.. momennya tiba. Berawal berat badan (alias BB), yang pada saat itu melonjak pesat. Tembus sampai diatas 70 kg, padahal TB cuma 155 cm aja. Overweight yang sudah mulai akut. Ini tak sehat. Pipi mulai kembung. Celana minta diupgrade ukuran. Sebentar-sebentar kerasa capek dan berkeringat. Kalau ada acara foto-foto pun juga harus pinter-pinter main gaya biar ga keliatan buncit haha..

Statistik Lari

Sepuluh bulan yang lalu, sekitar bulan ke-9 (September) tahun 2019. Terjadilah semangat, pengen menurunkan BB. Tidak ada target.. pokoknya turun, biar gak terjadi hal-hal diatas.

Akhirnya coba mencoba running dengan frekuensi yang ditingkatkan. Yang dulunya, sepekan sekali.. itupun sering bolong. Aku ubah jadi 2-3x. Bermodal amazfit bip, sepatu lari pinjaman dan jersey alakadarnya. Petualangan running untuk mengurangi BB dimulai!

Proses Berjalan

Tidak perlu malu menjadi pemula.

Tidak mudah proses awalnya. Apalagi ketika mulai rajin dan serius, itu bukan termotiviasi karena ajakan, berlari bareng ada temannya, atau bahkan karena trend. Semua sendirian. Alias solo runner. Membentuk rutinitas baru itu sangat berat. Tapi kalau tidak dimulai, bakal selamanya tidak berubah.

Mengenang rutinitas kehidupan di depok.

  • Pagi jam 3.30 bangun. Qiyammul Lail.
  • 4.15 mandi sebelum shubuh.
  • 4.30 jalan ke masjid plus Shubuhan.
  • Pulang dari masjid, mampir belanja sayuran (penguat diet, penurun BB harus diimbangi pola makan yang sehat).
  • 5.30 Jalan ke UI dan jogging, disempatkan sholat dhuha di masjid UI.
  • 8.00 Nyampe rumah, masak plus makan
  • 9.00 mulai aktivitas normal
  • dan.. malam maksimal jam 22 sudah bubu kembali, menyelami lautan mimpi.

Aktivitas baru yang menyenangkan!

Masak harus dilakukan sendiri. Agar terkontrol bahan-bahan apa saja yang mau dimakan. Lauk juga. Jajan, sesekali saja.. biar sehat (juga hemat hehe).

Waktu itu, pengen bisa lari 5 km tanpa henti, meski pelan saja. Menurut film Mari Lari yang aku tonton, dan yang bikin aku semangat memulai, cukup 2 bulan saja untuk pemula bisa mencapai 5km tanpa henti! Wuah, yang benar saja.

Aku lho, sebagai pemula, 1 km aja udah engap ga kuat. Gimana mau pasang target 5km dalam 2 bulan. Apa bener gitu? Ayo buktikaaan… toh klo gagal, ga ada ruginya apa-apa. Klo berhasil? Yang sukses diri kita sendiri. So, why not!!? Horray!

Mulai saja dengan 1 km tidak berhenti. Lari seperti dikejar anjing. 300 meter udah ga kuat. Ganti pola, lari pelan-pelan, gak usah malu dibalap orang. Lanjut 1.5 km tanpa henti, klo dah sukses tambah sikit demi sikit.. sampai 3 km tanpa henti. Alhamdulillah, berhasil. Masuk diatas 3 km, mulai deh sangat berat jendral! Hampir 2 minggu ternyata tidak ada kemajuan (secara statistik angka). Aku kira begitu, tidak ada kemajuan. Hampir pasrah, lari 5km itu terlalu berat buatku. Udah, disabar-sabari dulu.. tenang dan tenang, terus latihan aja dulu.

Ternyata, fisik berkata lain.. meski belum bisa tembus 4 km, rasanya jadi lebih bugar. Tidak secapek awal-awal. Dan lekas pulih buat lusanya jogging lagi.

Latihan berlanjut, selama ini ternyata aku terlalu ngotot. Maklum, pemula sendirian gak ada yang memberi masukan. Jadinya salah sana sini, coba ini itu. Lariku ternyata kecepatan. Setelah aku turunkan speednya, ternyata 4 km itu bisa terlewati. Bahkan gak lama kemudian, akhirnya 5 km berhasil tuntas tanpa henti. Lunasss. itu semua terjadi diakhir bulan ke 2.

Proses yang indah, dan.. lari kini menjadi sebuah hobi. Kesenangan yang sungguh membahagiakan. Sehat, bugar, dan ceria hehe..

Berani mencoba? Cuma 2 bulan saja lho ternyata bisa lari 5 km tanpa berhenti!

Diet yang Berhasil?

Perut Nabi itu rata, bahkan layaknya batu yang bersusun (sickpack). Euwwww.. bikin malu pada diri sendiri.

Pakai timbangan, masak sendiri, belanja sayuran, tidak boleh tidur sesudah sholat shubuh, pengadaan sepatu, jam tracker, jersey, celana.. dan beberapa printilan lain, bukti buat diri sendiri aku sangat-sangat serius buat diet dan olahraga lho. Begitu dibisikkan buat diri sendiri. Haha..

usaha tidak mengkhianati hasil

Begitu kata teman-teman di fatsecret menyemangati, haha.. Dari situ aku jadi tahu, makanan ini berapa kalori, ditimbang berapa gram buat dikonsumsi, dan total kalori yang masuk sudah berapa. Ditambah, lihat menu-menu makanan orang lain jadi ada ide makan apa yang simple-simple dimasak.

BB yang sejak awalnya tidak pernah bisa yakin bakal turun, malah kecenderungan naik terus. Eh, sedikit demi sedikit.. berangsur-angsur turun perlahan. Dari start awal 71 kg, eh menjadi dibawah 59 kg. Alhamdulillah.. senang bercampur bangga pada usaha diri sendiri.

Rata-rata penurunannya adalah 1.5 kg / bulan. Masih sehat kata orang-orang ‘penasehat’. Tidak drastis, tidak bikin lapar, tidak bikin lemas. Malah bikin semangat lari, makan enak, dan pola hidup menjadi lebih baik (tidak bergadang sampai dini hari, malamnya pulas tidur, dan kemudian tidak tidur habis shubuh).

Tidak ada niat buat “pamer” menunjukkan pada orang lain. Aku belajar banyak hal dari proses yang lama ini. Banyak hikmah, buat ditukar dan diceritakan. Yang siapa tahu, ada yang ikutan semangat mengambil manfaatnya haha..

First HM

Sabar menapaki jalan hingga langkah terakhir sampai finish. Meski lelah dan letih, berlari anehnya membuat bahagia. Seperti mendaki gunung, lelah tapi nagihin.

Sempat istirahat tidak latihan selama hampir sebulan. Karena pindahan dan masa pandemi corona yang serba sulit untuk keluar dan cari lokasi ‘aman’. Cuma workout ringan di dalam rumah saja.

Lanjut.. Target aslinya, hanya pengen 10 km saja. Itu sudah cukup lah buat diri sendiri dan kebugaran. Dan itu sudah tercapai di bulan ke 4 (meski lambat, hanya pace 9). Nanti kalau ada event, bisa ikutan 10k dengan lari yang “beneran” lari, bukan banyak jalannya sambil pura-pura kuat haha.. Eh, dasar. Namanya manusia, tertantang juga pengen meningkatkan jarak.

Kenapa? Alasanku karena jika bisa lari lebih jauh di atas 10k, tentu nanti pas ada event 10k itu jadi gak terlalu berat. Masih bisa senyum dan selfi-selfi. Selain itu, juga buat peningkatan endurance. Kalau nanti naik gunung (lagi), bisa lebih tahan kaki ga cepat kram. Alasan lain, tentu saja tertantang buat diri sendiri.. apa benar bisa lari lebih dari 10k? Atau bahkan 21k!? Berapa lama itu latihannya? Ah, gak masalah mau 1 tahun pun, 2 tahun baru bisa, atau 3 tahun.. atau kapanpun itu. Jalani aja. Toh bukan atlit, tidak ada target dan ikutan event pun, jadi santai aja… nikmati jalanannya, makin lama ngaspal makin asyik.

Alasan lainnya, lari jarak pendek itu kurang puas. Baru mulai eh sudah selesai. Sayang sudah keluar rumah, cuma olahraga sebentar. Jadinya pengen menikmatinya lebih lama. So, ditambah-tambahlah jarak dan waktunya.

First HM Kediri

Dan hari ini, 6 Juli 2020, kira-kira 10 bulan setelah memulai belajar. Akhirnya tercapai untuk kali pertamanya berlari menembus angka 21 km.

Terus-terusan lari? Enggak. Kali ini aku gak ngoyo banget. Pokoknya dinikmati. Pelan-pelan aja, klo capek istirahat bentar trus lanjut lagi. Gak kayak dulu yang ‘mewajibkan’ diri sendiri 10km berlari tanpa henti. So, santai bae..

Dua puluh satu kilometer itu jauh. Beneran jauh, setidaknya itu yang aku rasakan saat ini. Seperti rasanya saat-saat kali pertama berhasil mencapai 5km. Jauh dan capek, tapi senang..

Perut agak sakit tertusuk-tusuk kebanyakan minum. Karena baru pertama, belum punya strategi matang. Pas istirahat mampir warung beli minum, banyak neguknya. Alhasil, sudukan kata orang jawa. 5km terakhir menjadi saat-saat berat. Duduk minum diabang-abang tukang es tebu sambil perang pemikiran. Mo lanjut atau selesai segini aja, potong jalur, toh lain hari juga bisa. Apalagi udara sangat panas, udah hampir 3 jam lumayan terik dan menyengat. Eits, klo potong jalur berarti aku menyerah! Berkali-kali perang batin. Disitulah indahnya, melawan diri sendiri untuk tidak menyerah haha..

Alhamdulillah, pada akhirnya terlalui sudah angka 21k. Haus, lapar, capek. Tapi bahagia, puas dan senang bisa mencapainya. Kaki pegal-pegal, insyaAllah nanti sembuh hehe..

Akhir

Aku adalah seorang pelari. Bukan karena lariku kencang. Bukan karena jarak lariku jauh. Juga bukan karena aku seorang atlet. Tapi karena aku berlari.

Teringat pesan ustadz (Darwis) saat zaman SMA dulu bilang, jangan sampai suatu saat nanti pergi berjuang tapi mati karena gak kuat lari kecapean. Belum perangnya udah mati haha… *just kidding

Sejak kecil aku tidak suka lari. Pokoknya aktivitas fisik kurang suka. Tapi, itu semua karena aku tidak mengenalnya.

Untuk berlari, tidak harus rame-rame melakukannya (kayak futsal), sendirian langsung bisa mulai. Tidak perlu gear mahal atau susah, sepatu kusam pun bisa memulai ngacir. Tidak perlu cari tempat khusus (kayak berenang), disepanjang jalan bisa ngaspal atau malah offroad. Asal ada niat dan cuaca mendukung, insyaAllah bisa lancar. Lari menjadi hobiku sekarang, kesenangan tersendiri.

Aku adalah solo runner. Bukan karena lebih suka sendirian. Tapi belum ketemu teman buat diajak berlari bersama. Saat ini kebanyakan adalah teman virtual, melihat di Strava aja aku bahagia melebihi kesukaan lihat medsos macam kebanyakan orang hehe.

Jika ada yang dekat, yuk lari bareng. Ajari atau temani aku lari hehe.. Biar ada teman juga, katanya lari jadi lebih ringan?

PS. Tulisan ini diposting untuk tanggal 6 Juli 2020, saat usai HM. Padahal ditulis sesudahnya. Harap maklum, habis long run capek jendral hehe..

Tinggalkan komentar